Selasa, 12 Juni 2012

PENGGUNAAN BAHASA GAUL YANG MENYALAHI PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR


PENGGUNAAN BAHASA GAUL YANG MENYALAHI PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR
Ilman Naafi’aa
21040111130085
A.     Pendahuluan
Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan atau bahasa nasional Indonesia sebagaimana tercantum pada isi Sumpah Pemuda yang ketiga yaitu “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia” yang mempunyai makna bahasa pemersatu untuk berkomunikasi seluruh masyarakat Indonesia karena masyarakat di Indonesia adalah heterogen yang terdiri dari suku-suku dan mempunyai bahasa yang berbeda-beda contohnya bahasa Melayu, bahasa Padang, bahasa Kutai, bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Bali dan lain sebagainya, bahkan di dalam satu kabupaten setiap kecamatannya mempunyai logat yang berbeda-beda. Bahasa Indonesia inilah sebagai bahasa yang dapat dipahami oleh semua daerah dan suku di Indonesia.
Tetapi bahasa Indonesia pada jaman modern ini sudah dicemari oleh bahasa gaul yang sering digunakan oleh remaja masa kini, bahasa gaul ini merupakan bahasa yang tidak baku dan banyak menggunakan kosakata baru yang tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

“Bahasa gaul sudah muncul sejak awal 70-an. Awalnya digunakan para “bromocorah” agar orang diluar komunitas mereka tidak mengerti, jadi mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi jika membicarakan hal yang negatif. Lama kelamaan kebiasaan itu mulai ditiru oleh anak-anak remaja usia belasan tahun, bahkan menjadi semakin bervariatif kosakatanya.” (http://bahasakita. com/2009)

 Misalnya gue yang berarti saya, caem yang berarti bagus dan masih banyak lainnya.  Banyak juga pencampuran antara bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Dan akhirnya pun bahasa tidak baku atau yang dianggap gaul sudah menjadi kebiasaan bagi remaja saat ini, bahkan jika digunakan setiap hari mereka akan terbiasa menggunakannya dalam kegiatan formal sekalipun.  Bukan hanya pelafalan bahasa gaul yang menjadi kebiasaan namun juga tulisan yang sering disebut dengan bahasa Alay yang menggunakan huruf besar ditengah kata dan penggantian huruf dari s ke c dan g ke k misalnya pusing menjadi pUciNk.
Jika bahasa gaul terus mengalami kemajuan dan mengalahkan bahasa baku sesuai EYD maka bagaimana nasib bahasa persatuan Indonesia, apakah penerus generasi muda yang akan menjadi pemerintah Indonesia akan memberlakukan bahasa gaul? Padahal watak kewibawaan seseorang pertama terlihat dari cara bicaranya.

B.       Penggunaan bahasa gaul dan bahasa Indonesia sesuai EYD
Anak muda sekarang takut dibilang cupu yang artinya kuno, bergaul itu tanda seseorang supel yang pandai berkomunikasi dengan siapa saja. Dalam bahasa gaul terdapat banyak sekali kosakata baru yang pengartiannya tidak jelas atau mungkin singkatan-singkatan beberapa kata serta plesetan dari kata baku. Contoh beberapa kosakata bahasa gaul  dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 1.1
Tabel kosakata bahasa gaul
Meneketehe
Mana aku tahu
Gaptek
Gagap teknologi
Culun
Penampilan kuno
Tajir
Orang kaya
Jadul
Jaman dulu
Cemen
Penakut
Songong
Belagu
Bokis
Bohong
Garing
Tidak lucu
Brondong
Lebih muda

Alasan remaja lebih menyukai memakai bahasa gaul adalah karena seringnya mendengar kosakata dari berbagai acara di televisi yang sebagian besar menggunakan bahasa gaul, sementara itu sejalan dengan perkembangan kognitifnya, perkembangan bahasa remaja mengalami peningkatan pesat. Kosakata remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan dengan topik-topik yang lebih kompleks.

Menurut Owen (dalam Papalia, 2004) bahwa remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metaphor, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku.

Perkembangan bahasa gaul juga terdorong oleh psikososial remaja yang ingin mendapat perhatian dan identitas diri karena biasanya remaja cenderung labil. remaja yang ingin dianggap beken atau tenar di kalangan teman-temannya. Mereka menganggap berbahasa gaul adalah keren.
Ejaan pertama bahasa Indonesia adalah Ejaan van Ophuijsen (nama seorang guru besar belanda yang juga pemerhati bahasa), diberlakukan pada tahun 1901 selama 46 tahun sampai tahun 1947. Pada ejaan ini ada perbedaan beberapa huruf misalnya TJ adalah pengganti huruf C, OE pengganti huruf U, J berarti Y, dan DJ berarti J. Kemudian pada tahun 1947 sampai dengan 1972 menggunakan Ejaan Republik yang merubah huruf OE menjadi U tapi huruf yang lain masih tetap sama, dan tahun 1972 sampai sekarang telah menggunakan Ejaan yang disempurnakan yang merubah huruf-huruf tidak baku pada ejaan Ophuijsen.
Ruang lingkup EYD mencakupi lima aspek, yaitu (1) pemakaian huruf, (2) penulisan huruf, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur serapan, dan (5) pemakaian tanda baca.

1.       Pemakaian huruf, seperti abjad, konsonan, vokal, pemenggalan, nama diri.

2.       Penulisan huruf, seperti huruf kapital untuk  awal kalimat, nama diri, dan huruf miring untuk bahasa asing.

3.       Penulisan kata, contohnya kata dasar, kata ulang, kata turunan, gabungan kata, kata ganti, kata depan, kata sandang, partikel, sinonim dan akronim

4.       Penulisan unsur serapan yaitu mengindonesiakan bahasa asing.

5.       Pemakaian tanda baca seperti titik di akhir kalimat, koma untuk memenggal kata, tanda hubung, tanda tanya untuk kalimat tanya, tanda seru untuk kalimat seru, dll.

Ciri-ciri ragam bahasa baku yaitu, sebagai berikut.
  1. Digunakan dalam situasi formal, wacana teknis, dan forum-forum resmi seperti seminar atau rapat.
  2. Memiliki kemantapan dinamis artinya kaidah dan aturannya tetap dan tidak dapat berubah.
  3. Bersifat kecendekiaan, artinya wujud dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa yang lain mengungkapkan penalaran yang teratur.
  4. Memiliki keseragaman kaidah, artinya kebakuan bahasa bukan penyamaan ragam bahasa, melainkan kesamaan kaidah.
  5. Dari segi pelafalan, tidak memperlihatkan unsur kedaerahan atau asing.
(Dikutip dari buku Bahasa Indonesia Untuk SMK/MAK Semua Program Keahliaan Kelas X, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional. 2008 :10)

C.   Kesimpulan
                Bahasa adalah salah satu identitas bangsa, bahasa Indonesia yang baik dan benar telah memudar dan remaja sebagai penerus bangsa lebih menyukai bahasa gaul. Hal ini di takutkan akan menjadi kebiasaan para remaja sehingga tidak dapat menempatkan diri dengan siapa ia sedang berbicara, dalam forum apa dia berbicara. Hal ini tidak adapat dibiarkan begitu saja pembimbingan dari orang tua dan guru dibutuhkan alam keadaan ini agar bahasa Indonesia dengan EYD dapat berkembang dengan baik di masyarakat Indonesia terutama para remaja.

D.  Saran
Saran yang dapat diberikan kepada penulis adalah sebagai berikut
1.       Para remaja harus lebih selektif dalam penyampaian kosakata.
2.       Anak sekolah dari Sekolah Dasar harus lebih dibimbing oleh gurunya untuk mencintai bahasa Indonesia.
3.       Remaja yang cenderung labil harus diawasi oleh orang tua agar ia tidak terjerumus pada tindakan gaul yang salah.
4.       Para remaja silakan mengekspresikan dirinya tapi terbatas dengan kaidah dan norma, lebih selektif dalam bergaul.
DAFTAR PUSTAKA

http://kolom-inspirasi.blogspot.com. 2011.”Mengapa Banyak Remaja yang Menyukai Penggunaan Bahasa Alay” dalam blogspot.com. Diunduh Minggu, 4 Desember 2011.

 

Kurni, ues. 2009. “Ejaan yang Disempurnakan” dalam scribd.com.  http://www.scribd.com/doc /23761859/Makalah-Bahasa-Indonesia-EYD. Diunduh Minggu, 4 Desember 2011.


Urbanus, Doddy. 2009. “Bahasa Gaul dan Solidaritas Kaum Muda” dalam Bahasa Kita. http://bahasakita.com/2009/06/13/bahasa-gaul-dan-solidaritas-kaum-muda/. Diunduh Minggu, 4 Desember 2011.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

I am